Teori Ksatria
Teori Ksatria dikemukakan oleh F.D.K.
Bosch, C.C. Berg, Mookerji, dan J.L Moens yang menyatakan bahwa adanya
raja-raja dari India yang datang menaklukan daerah-daerah tertentu di
Indonesia telah mengakibatkan penghinduan penduduk setempat. Namun yang
menjadi perdebatan para sejarawan adalah apabila daerah Indonesia pernah
menjadi daerah taklukan kerajaan-kerajaan India, tentu saja terdapat
bukti yang menggambarkan penaklukan tersebut. Meskipun terdapat sebuah
prasasti yaitu, prasasti Tanjore, yang berisi tentang penaklukan kerajaan Sriwijaya
oleh kerajaan Cola dari India. Akan tetapi, tidak dapat digunakan untuk
memperkuat teori ini karena penaklukan tersebut terjadi pada abad
ke-11, sedangkan bukti yang diperlukan harus menunjukkan waktu yang
lebih awal, kelemahan dari teori ini adalah tidak ditemukannya bukti
yang cukup untuk mendukung pernyataan bahwa raja-raja India telah
menaklukan dan menghindukan penduduk di Indonesia.
Teori Waisya
Teori Waisya dikemukakan oleh NJ. Krom
yang menyatakan bahwa golongan Waisya (pedagang) merupakan golongan
terbesar yang berperan dalam menyebarkan agama dan kebudyaan
Hindu-Budha. Para pedagang yang sudah terlebih dahulu mengenal
Hindu-Budha datang ke Indonesia selain untuk berdagang mereka juga
memperkenalkan Hindu-Budha kepada masyarakat Indonesia. Karena pelayaran
dan perdagangan waktu itu bergantung pada angin musim, maka dalam waktu
tertentu mereka menetap di Indonesia jika angin musim tidak
memungkinkan untuk kembali. Selama para pedagang India tersebut tinggal
menetap, memungkinkan terjadinya perkawinan dengan perempuan-perempuan
pribumi. Dari sinilah pengaruh kebudayaan India menyebar dalam kehidupan
masyarakat Indonesia. Adapun kelemahan teori ini adalah apabila kita
lihat letak dari Kerajaan-Kerajaan Hindu yang ada di Indonesia lebih
banyak berada di pedalaman, namun jika persebaran Hindu tersebut
dilakukan oleh Waisya (pedagang) tentunya Kerajaan-Kerajaan tersebut
pasti banyak terletak di pesisir pantai karena daerah awal yang biasanya
disinggahi atau dituju oleh para pedagang adalah wilayah pesisir.
Teori Brahmana
Teori ini dikemukakan oleh Jc.Van Leur
yang menyatakan bahwa agama dan kebudayaan Hindu-Budha yang datang ke
Indonesia dibawa oleh golongan Brahmana (golongan agama) yang sengaja
diundang oleh penguasa Indonesia. Pendapatnya didasarkan pada pengamatan
terhadap sisa-sisa peninggalan kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu di
Indonesia, terutama pada prasasti-prasasti yang menggunakan Bahasa
Sansekerta dan Huruf Pallawa. Di India bahasa itu hanya digunakan dalam
kitab suci dan upacara keagamaan dan hanya golongan Brahmana yang
mengerti dan menguasai penggunaan bahasa tersebut. Kelemahan teori ini
adalah Dalam agama Hindu para Brahmana tidak boleh menyeberangi lautan.
Karena jika hal tersebut terjadi ilmu Brahmana tersebut akan hilang.
Teori Arus Balik
F.D.K Bosch menjelaskan peran aktif
orang-orang Indonesia dalam penyebaran kebudayaan Hindu-Budha di
Indonesia. Menurut Bosch, yang pertama kali datang ke Indonesia adalah
orang-orang India yang memiliki semangat untuk menyebarkan Hindu. Karena
pengaruhnya itu, ada di antara tokoh masyarakat yang tertarik untuk
mengikuti ajarannya. Pada perkembangan selanjutnya, banyak orang
Indonesia sendiri yang pergi ke India untuk berziarah dan belajar agama
Hindu di India. Sekembalinya di Indonesia, merekalah yang mengajarkannya
pada masyarakat Indonesia yang lain. Hal ini diperkuat oleh prasati
Nalanda yang menyebutkan bahwa Balaputradewa (raja Sriwijaya)
telah meminta kepada raja di India untuk membangun wihara di Nalanda
sebagai tempat untuk menimba Ilmu para tokoh dari Sriwijaya. Kelemahan
teori arus balik yang pertama adalah pada dasarnya, seseorang tidak
dapat menjadi Hindu, melainkan seseorang itu lahir sebagai Hindu.
Kelemahan yang ke dua adalah orang yang menyebarkan agama Hindu pada
teori ini adalah orang yang baru belajar agama Hindu dengan waktu yang
terbatas di India karena orang yang merantau ke India untuk belajar
agama Hindu kembali ke Indonesia dengan mengikuti arah angin muson,
sehingga ilmu yang di dapatkan para perantau ini tidak maksimal, dan
yang berhak menghindukan orang lain adalah kaum Brahmana
Teori Adaptasi global
Eddy Setiawati menjelaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki dan mempertahankan local genius yang
telah dimilikinya pada proses masuknya Hinduisme, masyarakat Indonesia
pada saat itu yang sebagian besar mengadopsi kebudayaan Hinduisme dari
India tetap mempertahankan kebudayaan asli yang dimilikinya.







0 komentar:
Posting Komentar