Selamat Datang Mari Berbagi!

Rabu, 07 Mei 2014

TEORI LAHIRNYA HINDU DI INDONESIA

Teori Ksatria
Teori Ksatria dikemukakan oleh F.D.K. Bosch, C.C. Berg, Mookerji, dan J.L Moens yang menyatakan bahwa adanya raja-raja dari India yang datang menaklukan daerah-daerah tertentu di Indonesia telah mengakibatkan penghinduan penduduk setempat. Namun yang menjadi perdebatan para sejarawan adalah apabila daerah Indonesia pernah menjadi daerah taklukan kerajaan-kerajaan India, tentu saja terdapat bukti yang menggambarkan penaklukan tersebut. Meskipun terdapat sebuah prasasti yaitu, prasasti Tanjore, yang berisi tentang penaklukan kerajaan Sriwijaya oleh kerajaan Cola dari India. Akan tetapi, tidak dapat digunakan untuk memperkuat teori ini karena penaklukan tersebut terjadi pada abad ke-11, sedangkan bukti yang diperlukan harus menunjukkan waktu yang lebih awal,  kelemahan dari teori ini adalah tidak ditemukannya bukti yang cukup untuk mendukung pernyataan bahwa raja-raja India telah menaklukan dan menghindukan penduduk di Indonesia.
Teori Waisya
Teori Waisya dikemukakan oleh NJ. Krom yang menyatakan bahwa golongan Waisya (pedagang) merupakan golongan terbesar yang berperan dalam menyebarkan agama dan kebudyaan Hindu-Budha. Para pedagang yang sudah terlebih dahulu mengenal Hindu-Budha datang ke Indonesia selain untuk berdagang mereka juga memperkenalkan Hindu-Budha kepada masyarakat Indonesia. Karena pelayaran dan perdagangan waktu itu bergantung pada angin musim, maka dalam waktu tertentu mereka menetap di Indonesia jika angin musim tidak memungkinkan untuk kembali. Selama para pedagang India tersebut tinggal menetap, memungkinkan terjadinya perkawinan dengan perempuan-perempuan pribumi. Dari sinilah pengaruh kebudayaan India menyebar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Adapun kelemahan teori ini adalah apabila kita lihat letak dari Kerajaan-Kerajaan Hindu yang ada di Indonesia lebih banyak berada di pedalaman, namun jika persebaran Hindu tersebut dilakukan oleh Waisya (pedagang) tentunya Kerajaan-Kerajaan tersebut pasti banyak terletak di pesisir pantai karena daerah awal yang biasanya disinggahi atau dituju oleh para pedagang adalah wilayah pesisir.
Teori Brahmana
Teori ini dikemukakan oleh Jc.Van Leur yang menyatakan bahwa agama dan kebudayaan Hindu-Budha yang datang ke Indonesia dibawa oleh golongan Brahmana (golongan agama) yang sengaja diundang oleh penguasa Indonesia. Pendapatnya didasarkan pada pengamatan terhadap sisa-sisa peninggalan kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu di Indonesia, terutama pada prasasti-prasasti yang menggunakan Bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa. Di India bahasa itu hanya digunakan dalam kitab suci dan upacara keagamaan dan hanya golongan Brahmana yang mengerti dan menguasai penggunaan bahasa tersebut. Kelemahan teori ini adalah Dalam agama Hindu para Brahmana tidak boleh menyeberangi lautan. Karena jika hal tersebut terjadi ilmu Brahmana tersebut akan hilang.
Teori Arus Balik
F.D.K Bosch menjelaskan peran aktif orang-orang Indonesia dalam penyebaran kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Menurut Bosch, yang pertama kali datang ke Indonesia adalah orang-orang India yang memiliki semangat untuk menyebarkan Hindu. Karena pengaruhnya itu, ada di antara tokoh masyarakat yang tertarik untuk mengikuti ajarannya. Pada perkembangan selanjutnya, banyak orang Indonesia sendiri yang pergi ke India untuk berziarah dan belajar agama Hindu di India. Sekembalinya di Indonesia, merekalah yang mengajarkannya pada masyarakat Indonesia yang lain. Hal ini diperkuat oleh prasati  Nalanda yang menyebutkan bahwa Balaputradewa (raja Sriwijaya) telah meminta kepada raja di India untuk membangun wihara di Nalanda sebagai tempat untuk menimba Ilmu para tokoh dari Sriwijaya. Kelemahan teori arus balik yang pertama adalah pada dasarnya, seseorang tidak dapat menjadi Hindu, melainkan seseorang itu lahir sebagai Hindu. Kelemahan yang ke dua adalah orang yang menyebarkan agama Hindu pada teori ini adalah orang yang baru belajar agama Hindu dengan waktu yang terbatas di India karena orang yang merantau ke India untuk belajar agama Hindu kembali ke Indonesia dengan mengikuti arah angin muson, sehingga ilmu yang di dapatkan para perantau ini tidak maksimal, dan yang berhak menghindukan orang lain adalah kaum Brahmana
Teori Adaptasi global
Eddy Setiawati menjelaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki dan mempertahankan local genius yang telah dimilikinya pada proses masuknya Hinduisme, masyarakat Indonesia pada saat itu yang sebagian besar mengadopsi kebudayaan Hinduisme dari India tetap mempertahankan kebudayaan asli yang dimilikinya.

0 komentar:

Posting Komentar